Suatu saat saya bersama
teman-teman diberi kesempatan untuk pergi ke Lampung dan menginap selama
beberapa hari di sebuah desa di Lampung bagian Timur. Kami bertandang ke rumah
seorang ibu setengah baya, anggota jemaat GKSBS (Gereja Kristen Sumatera Bagian
Selatan) Jemaat Gunung Pasir Jaya, Lampung Timur.
Dalam percakapan kami, ia
bercerita bahwa dirinya beserta sebagian
besar penduduk desa tidak bisa memanen padi pada saat ini karena sawah yang
mereka tanami dengan padi, tenggelam dalam genangan luapan air sungai. Lalu
kami bertanya kepada si ibu: “Kalau begitu, apa yang menjadi makanan ibu dan
anak ibu?” Dengan santainya, si ibu menjawab, "Ya, apa yang ada toh pak. Yang
penting sekarang kami bisa makan dan kami tidak kapok menanam padi lagi
walaupun hanya sedikit benih yang bisa kami tanam. Saya hanya mohon berkat dari Tuhan Yesus saja karena saya
percaya berkat Tuhan Yesus pasti masih ada."
Keimanan dengan sikap pasrah dan percaya akan berkat Tuhan Yesus menjadi sebuah daya gerak yang hidup dalam diri si ibu dan yang membuat dia tidak patah arang ketika menghadapi gagal panen, melainkan mau tetap berusaha dan bekerja, menanam kembali benih padi ketika sawah tidak lagi digenangi air sungai, walau benih yang ia miliki hanya sedikit. Bagi saya, percakapan dengan si ibu adalah sebuah pelajaran yang luar biasa berharga yang mengingatkan bahwa keimanan dan pengharapan kepada Tuhan Yesus menjadi penggerak hidup kita di dalam situasi dan kondisi apapun yang kita hadapi di dalam dunia ini. Amin.
No comments:
Post a Comment