Saudara-saudara,
Kebaikan Tuhan Allah kita tidak
akan pernah habis bisa kita pahami. Betapa besar dan luasnya kebaikan Tuhan pun
tidak cukup dan tidak muat kita ekspresikan dalam bahasa yang kita pakai. Namun
bukan berarti bahwa kita tidak perlu atau malas untuk mengungkapkannya. Salah
satu pribadi yang mencoba menyatakan kebaikan Tuhan Allah dalam hidupnya adalah
pemazmur yang syair-syairnya baru saja kita baca.
Mazmur 103 merupakan syair
puji-pujian seorang yang sangat mengucap syukur. Mazmur ini mengungkapkan banyak
alasan untuk menuliskan puja dan pujiannya kepada Allah, serta juga karena latar
belakang sejarah keselamatan dan/atau penebusan Allah bagi umat Israel.
Sejarah penebusan Allah merupakan
fakta yang tidak boleh dilupakan oleh semua keturunan dan ahli waris bangsa
Israel. Peristiwa-peristiwa itu, misalnya: pembebasan umat Israel dari penguasa
Mesir, tuntunan Tuhan Allah di sepanjang jalan menuju ke tanah perjanjian,
sampai pada kepemimpinan Tuhan terhadap Daud sendiri sebelum dan sesudah dia
menjadi raja Israel. Oleh karena itu, penulis mazmur ini
juga tidak bisa mengabaikan kasih setia dan belas kasih Tuhan (YAHWEH), yang
telah mengampuni kedegilan hati dan dosa umat Israel, termasuk dosa-dosa
dirinya sendiri.
Saudara-saudara, dalam semua
kesusasteraan di dunia, tidak ditemukan karya yang sezaman dengan nyanyian
pujian seperti yang tertera dalam Mazmur 103. Tampaknya, menurut banyak
penafsir, nyanyian ini merupakan ekspresi seseorang yang sangat merasakan
betapa besarnya penyertaan Tuhan atas hidupnya yang pada saat itu sangat tidak
mengenakkan. Pemazmur berusaha mengobarkan semangatnya sendiri untuk
mempersembahkan pujian dan ucapan syukur kepada Allah, lalu dalam mazmurnya ini
ia ingin menyemangati orang lain untuk turut bersyukur kepada Tuhan Sang Pemilik
Hidup.
Dinamika atau pergerakan hidup yang
penuh ungkapan syukur atas kebaikan Allah dari syair mazmur ini dapat
dijabarkan sebagai berikut: pertama, memuji Allah itu bukan sebuah pilihan,
namun sebagai panggilan mulia yang harus menjadi gaya hidup orang-orang
percaya. Di dalam pujian kepada Tuhan, dalam ayat 3-7, pemazmur menjabarkan
perihal kebaikan-kebaikan Tuhan, yakni pengampunan, penyembuhan, penebusan,
pembaruan, pemuasan, menjalankan keadilan dan membuat jalanNya lebih dikenal.
Hal yang kedua adalah pemazmur dengan
segenap hati disadarkan akan begitu banyak berkat dari Tuhan yang secara khusus
dianugerahkan kepada manusia. Dalam ayat 8 dikatakan: Tuhan adalah penyayang
dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.” Kalimat tersebut sering
kita temukan dalam kitab Mazmur dan kitab para nabi yang menggambarkan betapa
setianya Tuhan kepada: Musa (Keluaran 34:6); kepada bangsa Israel ditengah
pengkhianatan mereka dengan patung lembu emas (Keluaran 32). Pemazmur juga
menjelaskan betapa TUHAN tidak selalu menuntut atau menagih kesetiaan manusia. Justru
manusialah yang selalu melakukan pelanggaran dan dosa, artinya menjauh dari kasih
dan kebaikan Tuhan. Tapi Tuhan tidak pernah menjauhkan kebaikan-Nya untuk manusia.
Pemazmur bahkan lebih ekstrim lagi mengilustrasikan
bagaimana Tuhan menyatakan kasih dan kebaikan-Nya kepada manusia.. Ia
mengatakan: “sejauh timur dari barat,
demikianlah dijauhkan-Nya daripada kita, pelanggaran kita”…. Tuhan rela MENJAUHKAN
(baca: tidak menghukum) cara hidup manusia yang penuh dengan ketidaksetiaan dan
dosa manusia itu dengan hukuman yang seharusnya/setara. Betapa dahsyatnya kebaikan
Tuhan itu kepada manusia bukan?
Nah, yang menjadi pertanyaan:
apakah dasar perlakuan TUHAN itu atas diri manusia yang berdosa? Pemazmur
mengatakan dalam ayat 13: “Seperti Bapa sayang kepada anak-anaknya.” Kata “sayang”
yang dipakai pemazmur dalam bahasa Ibrani adalah “racham”, yang artinya: TIDAK DAPAT TIDAK MENYAYANGI. Kata yang berkaitan
dalam bahasa Indonesia adalah: RAHIM (kata sifat: bersifat belas kasihan;
bersifat penyayang; yang melindungi). Jadi, kasih setia TUHAN itu seperti adalah
kasih Bapa yang seperti kasih Ibu yang menyayangi bayi dalam kandungannya.
Cinta kasih, kesetiaan, dan kebaikan TUHAN untuk manusia itu sesungguhnya
didasari oleh “racham” Tuhan kepada
seluruh ciptaanNya dan secara khusus kepada manusia. Ia ingat siapa manusia itu
(ayat 14) dan karena kerentanan kita itulah juga, Ia menyayangi kita.
Jika memang Tuhan begitu baik bagi
manusia, maka manusia yang telah menerima anugerah kebaikan Tuhan itu
seharusnya meneladani kebaikan Tuhan. Terkait dengan Mazmur 5: 43-48 yang telah
kita baca tadi, maka kita sebagai manusia yang telah menerima anugerah harus
menjadi sempurna (Ibrani: teleios)
seperti Bapa kita (ayat 48).
Kesempurnaan seperti apa yang
dimaksud? Kesempurnaan yang dimaksudkan adalah seperti yang dijabarkan dalam
ayat 44-45: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi
mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang
di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan
orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang
yang tidak benar.
Jikalau Tuhan tidak memilah-milah,
kepada siapa Ia menyatakan kebaikan dan kasih setianya, maka kita pun turut menyatakan
hal itu kepada manusia. Bukan hanya kepada sesama (satu suku; hanya orang yang bersikap
baik kepada kita; hanya kawan; hanya orang-orang yang sejalan dengan pemahaman kita)
tetapi Tuhan Yesus mengatakan: kasihilah musuhmu (yang berseberangan/berbeda/salah/jahat).
Hukum kasih Tuhan Yesus ini menjadi antithesis terhadap lex talionis (hukum pembalasan) yang tertera dalam kitab Taurat.
Mudahkah manusia untuk melakukan kehendak
Tuhan itu? Tentu tidak saudara-saudara. Itu sebabnya karakter dan tindakan nyata
atas karakter kasih Kristus ini perlu didasari dengan doa kepada Bapa. Itu sebabnya
Yesus mengatakan: berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Jikalau untuk
mendoakan mereka yang bersalah atau menganiaya kita saja kita tidak mau,
bagaimana kita bisa melakukan hal yang lebih dari tindakan doa itu?