Tuesday, June 21, 2016

Allah Bapa Yang Baik - Pemahaman Alkitab Umat dengan bahan Alkitab dari Mazmur 103:1-22 & Matius 5: 43-48

Saudara-saudara,
Kebaikan Tuhan Allah kita tidak akan pernah habis bisa kita pahami. Betapa besar dan luasnya kebaikan Tuhan pun tidak cukup dan tidak muat kita ekspresikan dalam bahasa yang kita pakai. Namun bukan berarti bahwa kita tidak perlu atau malas untuk mengungkapkannya. Salah satu pribadi yang mencoba menyatakan kebaikan Tuhan Allah dalam hidupnya adalah pemazmur yang syair-syairnya baru saja kita baca.

Mazmur 103 merupakan syair puji-pujian seorang yang sangat mengucap syukur. Mazmur ini mengungkapkan banyak alasan untuk menuliskan puja dan pujiannya kepada Allah, serta juga karena latar belakang sejarah keselamatan dan/atau penebusan Allah bagi umat Israel.

Sejarah penebusan Allah merupakan fakta yang tidak boleh dilupakan oleh semua keturunan dan ahli waris bangsa Israel. Peristiwa-peristiwa itu, misalnya: pembebasan umat Israel dari penguasa Mesir, tuntunan Tuhan Allah di sepanjang jalan menuju ke tanah perjanjian, sampai pada kepemimpinan Tuhan terhadap Daud sendiri sebelum dan sesudah dia menjadi raja Israel. Oleh karena itu, penulis mazmur ini juga tidak bisa mengabaikan kasih setia dan belas kasih Tuhan (YAHWEH), yang telah mengampuni kedegilan hati dan dosa umat Israel, termasuk dosa-dosa dirinya sendiri.

Saudara-saudara, dalam semua kesusasteraan di dunia, tidak ditemukan karya yang sezaman dengan nyanyian pujian seperti yang tertera dalam Mazmur 103. Tampaknya, menurut banyak penafsir, nyanyian ini merupakan ekspresi seseorang yang sangat merasakan betapa besarnya penyertaan Tuhan atas hidupnya yang pada saat itu sangat tidak mengenakkan. Pemazmur berusaha mengobarkan semangatnya sendiri untuk mempersembahkan pujian dan ucapan syukur kepada Allah, lalu dalam mazmurnya ini ia ingin menyemangati orang lain untuk turut bersyukur kepada Tuhan Sang Pemilik Hidup.

Dinamika atau pergerakan hidup yang penuh ungkapan syukur atas kebaikan Allah dari syair mazmur ini dapat dijabarkan sebagai berikut: pertama, memuji Allah itu bukan sebuah pilihan, namun sebagai panggilan mulia yang harus menjadi gaya hidup orang-orang percaya. Di dalam pujian kepada Tuhan, dalam ayat 3-7, pemazmur menjabarkan perihal kebaikan-kebaikan Tuhan, yakni pengampunan, penyembuhan, penebusan, pembaruan, pemuasan, menjalankan keadilan dan membuat jalanNya lebih dikenal.

Hal yang kedua adalah pemazmur dengan segenap hati disadarkan akan begitu banyak berkat dari Tuhan yang secara khusus dianugerahkan kepada manusia. Dalam ayat 8 dikatakan: Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.” Kalimat tersebut sering kita temukan dalam kitab Mazmur dan kitab para nabi yang menggambarkan betapa setianya Tuhan kepada: Musa (Keluaran 34:6); kepada bangsa Israel ditengah pengkhianatan mereka dengan patung lembu emas (Keluaran 32). Pemazmur juga menjelaskan betapa TUHAN tidak selalu menuntut atau menagih kesetiaan manusia. Justru manusialah yang selalu melakukan pelanggaran dan dosa, artinya menjauh dari kasih dan kebaikan Tuhan. Tapi Tuhan tidak pernah menjauhkan kebaikan-Nya untuk manusia.

Pemazmur bahkan lebih ekstrim lagi mengilustrasikan bagaimana Tuhan menyatakan kasih dan kebaikan-Nya kepada manusia.. Ia mengatakan:  “sejauh timur dari barat, demikianlah dijauhkan-Nya daripada kita, pelanggaran kita”…. Tuhan rela MENJAUHKAN (baca: tidak menghukum) cara hidup manusia yang penuh dengan ketidaksetiaan dan dosa manusia itu dengan hukuman yang seharusnya/setara. Betapa dahsyatnya kebaikan Tuhan itu kepada manusia bukan?

Nah, yang menjadi pertanyaan: apakah dasar perlakuan TUHAN itu atas diri manusia yang berdosa? Pemazmur mengatakan dalam ayat 13: “Seperti Bapa sayang kepada anak-anaknya.” Kata “sayang” yang dipakai pemazmur dalam bahasa Ibrani adalah “racham”, yang artinya: TIDAK DAPAT TIDAK MENYAYANGI. Kata yang berkaitan dalam bahasa Indonesia adalah: RAHIM (kata sifat: bersifat belas kasihan; bersifat penyayang; yang melindungi). Jadi, kasih setia TUHAN itu seperti adalah kasih Bapa yang seperti kasih Ibu yang menyayangi bayi dalam kandungannya. Cinta kasih, kesetiaan, dan kebaikan TUHAN untuk manusia itu sesungguhnya didasari oleh “racham” Tuhan kepada seluruh ciptaanNya dan secara khusus kepada manusia. Ia ingat siapa manusia itu (ayat 14) dan karena kerentanan kita itulah juga, Ia menyayangi kita.

Jika memang Tuhan begitu baik bagi manusia, maka manusia yang telah menerima anugerah kebaikan Tuhan itu seharusnya meneladani kebaikan Tuhan. Terkait dengan Mazmur 5: 43-48 yang telah kita baca tadi, maka kita sebagai manusia yang telah menerima anugerah harus menjadi sempurna (Ibrani: teleios) seperti Bapa kita (ayat 48).

Kesempurnaan seperti apa yang dimaksud? Kesempurnaan yang dimaksudkan adalah seperti yang dijabarkan dalam ayat 44-45: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

Jikalau Tuhan tidak memilah-milah, kepada siapa Ia menyatakan kebaikan dan kasih setianya, maka kita pun turut menyatakan hal itu kepada manusia. Bukan hanya kepada sesama (satu suku; hanya orang yang bersikap baik kepada kita; hanya kawan; hanya orang-orang yang sejalan dengan pemahaman kita) tetapi Tuhan Yesus mengatakan: kasihilah musuhmu (yang berseberangan/berbeda/salah/jahat). Hukum kasih Tuhan Yesus ini menjadi antithesis terhadap lex talionis (hukum pembalasan) yang tertera dalam kitab Taurat.

Mudahkah manusia untuk melakukan kehendak Tuhan itu? Tentu tidak saudara-saudara. Itu sebabnya karakter dan tindakan nyata atas karakter kasih Kristus ini perlu didasari dengan doa kepada Bapa. Itu sebabnya Yesus mengatakan: berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Jikalau untuk mendoakan mereka yang bersalah atau menganiaya kita saja kita tidak mau, bagaimana kita bisa melakukan hal yang lebih dari tindakan doa itu?

Jadi, kebaikan Tuhan itu harus kita rayakan karena kebaikan Tuhan itu jauh melampaui batas akal dan batas tindakan kita sebagai manusia. Sebagai umat yang percaya kepada Tuhan, yang telah menyatakan kasihNya secara nyata dalam diri Yesus Kristus, dan sebagai umat yang telah menerima anugerah kebaikan Allah Bapa dalam Tuhan Yesus, maka kita bukan lagi umat sembarangan tetapi anak-anak Allah yang telah menerima anugerah yang sempurna itu. Untuk itulah kita dituntut untuk menjadi sempurna dalam menyatakan kasih kepada segala mahluk, sama seperti Bapa kita yang mengasihi dan menyayangi kita sebagai anak-anak-Nya. Semua tindakan yang harus kita lakukan dalam rangka meresponi anugerah kebaikan Bapa kita itu tidak akan pernah bisa kita lakukan dengan baik tanpa penyertaan Bapa kita. Oleh karena itu, jangan lupa untuk selalu mendasari diri kita dengan doa kepada Tuhan dan penyerahaan total hidup kita kepada-Nya, sehingga kebaikan Allah yang telah kita rasakan, dapat kita bagikan juga kepada setiap mahluk ciptaan Tuhan.

No comments:

Post a Comment