Tuesday, March 18, 2014

Elohi, Elohi!! Lamma Sabakhthani???

Matius 27: 46: "Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"

Saya teringat ketika tahun 1994, kami sekeluarga pertama kali pergi ke Pulau Nias, kampung halaman orangtua kami. Kami naik LAWIT, kapal laut yang cukup besar. Singkat cerita, ketika kapal sudah berlayar jauh dari Jakarta, pada malam hari pukul 01.00 saya terbangun dan keluar dari dek ruang tidur menuju teras di bagian atas kapal. Saya baru pertama kali merasakan dinginnya angin laut pada malam hari di atas kapal dan saya merasa sepi sekali. Ketika saya melihat ke sekeliling, tidak ada cahaya apapun yang terlihat!! Gelap gulita dan tidak terlihat apapun yang menandakan adanya daratan!! Saat itu saya merasa ketakutan karena saya sadar, saya benar-benar di atas air laut dan terpisah dari daratan, terpisah dari kerabat, sahabat, rekan yang saya kenal!! Saya membayangkan kalau terjadi sesuatu yang buruk pada kapal laut itu misalkan tenggelam atau terbakar, maka tidak ada satu manusiapun yang ada di darat yang mampu menolong! Gila, saya terpisah dari daratan dan sendirian!!

Ketika saya membaca nas Alkitab di atas, saya kembali teringat pengalaman saya itu dan saya berefleksi jikalau saya saja merasa berat untuk terpisah hanya seorang diri maka lebih berat lagi rasa kesendirian yang dirasakan oleh Tuhan Yesus karena Ia harus terpisah dari BapaNya..

Dalam bacaan kita tadi, kira-kira pukul 15.00, menjelang hari sabat, Yesus sudah disalibkan dan dipajang di atas bukit Golgota. Saat Ia di atas kayu salib, Yesus mengatakan: “Eloi, Eloi, lamma sabachthani?” Bahasa yang dipakai Yesus ini adalah bahasa Aramaic yang biasa dipakai oleh Yesus dan banyak orang pada saat itu. Kata-kata ini sebenarnya sudah pernah diungkapkan dahulu kala oleh Pemazmur dalam Mzm 22: 2.

Sekilas saja tentang Mazmur 22 ayat 2, dimana mazmur tersebut merupakan ratapan yang begitu dalam dan seringkali diungkapkan dalam doa-doa orang Yahudi ketika mereka sedang mengalami penderitaan batin yang sungguh menyakitkan.. Beberapa minggu lalu ada rekan kami yang kehilangan anak mereka satu-satunya yang mereka tunggu selama 19 tahun usia pernikahan mereka. Namun sang anak hanya menceriakan hidup kedua rekan kami tersebut dalam waktu 5 tahun 9 bulan karena mendadak sakit dan tak bisa ditolong lagi secara medis..

Bayangkan saudara-saudara, betapa menyakitkan dan menyedihkan perasaan kedua rekan kami tersebut karena harus berpisah selamanya dengan buah hati yang telah mereka tunggu bertahun-tahun? Rasa sedih dan rasa sakit karena keterpisahan itu sangat mendalam sehingga membuat semua orang yang datang menangis ketika melayat dan mengadakan ibadah penghiburan sangat....semua orang sangat terpukul secara mental karena peristiwa duka yang sangat tiba-tiba itu.

Perasaan sedih yang amat dalam itu juga dirasakan Tuhan Yesus ketika Ia sedang dalam keadaan tersiksa.. Perlu kita ingat bahwa Tuhan Yesus tidak banyak berkata-kata saat Ia mengalami siksaan secara fisik. Namun, mengapa ketika di atas kayu salib, Ia berteriak seperti itu? Penderitaan apakah yang dialami Sang Mesias yang membuatNya meratap seperti itu.

PenderitaanNya adalah: IA  HARUS MENGALAMI KETERPISAHAN JIWA DENGAN BAPANYA!! Mengapa? Karena Tuhan Yesus harus menanggung dosa manusia maka Ia juga menjadi pribadi yang MENJADI dosa…. contohnya: seperti buah Apel yang ada di tangan saya.. Kalau buah apel yang ditangan saya ini hendak dijadikan jus apel, apa yang harus saya perbuat? Buang kulitnya, buang bijinya, lalu diblender kan? Artinya untuk menjadi jus, maka buah apel itu harus dipisahkan bagiannya kan? Nah, demikianlah juga ketika Yesus harus menanggung dosa manusia. Untuk menjadi korban tebusan dosa yang sempurna dan utuh, untuk menjadi Mesias yang sempurna, maka Ia harus terpisah dari kesucian BapaNya dan berada di posisi seorang yang berdosa. Karena Sang Bapa itu mulia, tidak bercela, dan tidak berdosa maka tidak mungkin Sang Bapa menjadi satu dengan dosa. Itu sebabnya juga Sang Bapa harus memisahkan diri dari Yesus, Yang Suci harus memisahkan diri dengan Dosa. Bapa HARUS meninggalkan Sang Anak SENDIRIAN untuk mati sebagai korban penebusan dosa umat manusia.

Keterpisahan inilah yang menyakitkan sekali bagi Tuhan Yesus sehingga terlontarlah kata-kata dari mulutNya, “Elohi, Elohi!! Lamma sabakhthani?” seperti yang tertera dalam Mazmur 22:2.. Peristiwa ini juga menandakan bahwa apa yang telah dinubuatkan dahulu kala tentang Mesias itu, maka semuanya digenapi dalam peristiwa penyaliban Yesus.

Saudara dikasihi Kristus,
belajar dari apa yang dialami oleh Yesus Kristus beberapa hal harus kita petik. Pertama, rasa sedih yang mendalam karena terpisah dari Allah karena dosa, juga seharusnya menjadi perasaan setiap orang yang telah mengaku percaya kepada Yesus tetapi masih berperilaku dosa. Jika kita masih saja bergelut dengan dosa kita dan tidak bersedih bahkan terlihat sangat gembira, seharusnya menjadi pertanyaan: benarkah kita sudah sungguh-sungguh menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita?? Sudah layakkah kita disebut sebagai umat/orang tebusan darah Yesus Kristus?? Ratapan Kristus itu seharusnya menggugah kita untuk mengakui segala dosa kita dihadapan Yesus Kristus dan bertobat dihadapanNya.

Kedua adalah apakah saat Tuhan Yesus sedang meratap dan bersedih karena Ia harus berpisah dengan Sang Bapa, membuat Ia menjadi tidak beriman? Tentu saja tidak! Ketika Ia menyebut: Elohi sebanyak dua kali, itu menandakan bahwa Sang Bapa tetap menjadi pusat keimanan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tetap percaya bahwa apa yang Ia harus tanggung saat itu semuanya itu terjadi dalam rencana BapaNya untuk pemulihan seluruh umat manusia dari kuasa dosa dan Yesus rela untuk menahan semuanya. Walau sedih dan sakit dan sakit dalam menanggung salibNya tetapi Tuhan Yesus tetap beriman kepada Sang Bapa sebagai pemilik hidup. Bukankah sikap iman itu juga yang seharusnya menjadi sikap iman ketika kita juga sedang memikul salib hidup kita masing-masing? Setiap orang punya beban salib masing-masing dan tidak ada yang bisa mengatakan bahwa beban seorang lebih berat dari beban oarang lain karena sesungguhnya pergumulan tiap orang berbeda. Tetapi sebagai umat yang percaya kepada Tuhan Yesus, sudah selayaknyalah kita tetap beriman kepada Tuhan Yesus dalam memikul salib hidup kita masing-masing. Salib yang kita pikul memang berat tetapi kalau kita mau memposisikan diri kita dalam posisi Tuhan Yesus yang harus menanggung penderitaan salib secara fisik dan psikis, tentu salib kita saat ini menjadi tidak berarti apa-apa dibandingkan salib Tuhan Yesus.

BERTOBATLAH DARI DOSA-DOSAMU DAN TETAPLAH BERIMAN KEPADA TUHAN YESUS DALAM MENANGGUNG SALIBMU

Amin!

No comments:

Post a Comment